Excerpt for Mitos Yang Salah & Keliru Tentang Bangsa Jin by , available in its entirety at Smashwords

Mitos Yang Salah & Keliru Tentang Bangsa Jin

by

Muhammad Vandestra

2017



































Prakata

Allah telah menegaskan dalam firman-Nya, “(Dialah Allah) yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya”. (QS. Al-Jin: 26-27). Sehingga di ayat yang lain Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk mengakui akan ketidaktahuannya tentang keghaiban, kecuali yang sudah diwahyukan Allah kepadanya, “Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188).

Berdasarkan ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa yang paling tahu kehidupan alam ghaib hanyalah Allah, termasuk kehidupan jin dan syetan. Sebetulnya Rasulullah sendiri makhluk yang paling dekat dan paling bertaqwa kepada Allah-, juga tidak tahu akan hal yang ghaib. Beliau tahu yang ghaib sebatas apa yang diberitahukan oleh Allah kepadanya melalui wahyu yang beliau terima. Sehingga kita tidak boleh sok tahu akan hal-hal yang ghaib. Kalau berbicara hal yang ghaib, ikutilah sumber wahyu yang ada (al-Qur’an dan al-Hadits) agar kita tidak tersesat, dan iman kita terhadap yang ghaib tidak salah.

Yang kita maksud dari mitos di sini adalah informasi tentang kehidupan jin yang tidak sesuai syari’at Islam. Yang selama ini menjadi opini ghaib dan wacana mistik yang mayoritas masyarakat kita meyakini akan kebenarannya. Padahal mitos itu tidak benar adanya. Akibat dari keyakinan pada mitos yang salah itu, keimanan kita pada yang ghoib, terutama tentang kehidupan jin jadi menyimpang dari syari’at Islam. Lalu dari kesalahan itu melahirkan penyimpangan prilaku dan perbuatan. Akhirnya ia takut pada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lebih takut kepada jin dan syetan daripada takut kepada Yang menciptakan mereka, yaitu Allah.

Jin adalah bagian dari makhluk ghaib. Dan beriman kepada yang ghaib adalah bagian dari karakter dan sifat seorang mukmin yang bertaqwa (QS. al-Baqoroh: 1-5). Kalau keimanan seorang mukmin itu salah, maka akan terjadi kecacatan (kesalahan) dalam keimanannya. Berikut keyakinan yang salah kaprah (mitos yang tak perlu dibenarkan) dan sudah mewabah di masyarakat, serta diblow-up di berbagai macam media massa cetak atau elektronik yang harus segera diluruskan agar tidak merusak iman kita, atau kaum muslimin pada khususnya.











Semua Tentang Jin

Sesungguhnya secara garis besar, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Apa itu Jin

Jin, dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Al Bukhari).

Asal kejadian Jin

Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr: 27). “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman : 15).

Rasulullah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum].” (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud “api yang sangat panas” (nar al-samum) atau “nyala api” (nar) dalam firman Allah di atas ialah “api murni”. Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya “bara api”, seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Jin mengubah bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu keistimewaan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.



Apakah jin juga mati?

Jin beranakpinak dan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: “Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna – Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati.” (Bukhari: 7383, Muslim: 717)

Tempat-tempat kesukaan Jin

Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah WC, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR At-Turmudzi).

Setan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Quran sengaja tak menjelaskan secara rinci. Mungkin karena kuburan sering dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (paranormal). Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian setan untuk mempermainkan auratnya.

Setan selalu mendampingi manusia

Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya “yang menyertai” manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Qaf: 27).









Mitos Yang Salah Tentang Kehidupan Bangsa Jin & Setan

Allah telah menegaskan dalam firman-Nya, “(Dialah Allah) yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya”. (QS. Al-Jin: 26-27). Sehingga di ayat yang lain Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk mengakui akan ketidaktahuannya tentang keghaiban, kecuali yang sudah diwahyukan Allah kepadanya, “Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188).

Berdasarkan ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa yang paling tahu kehidupan alam ghaib hanyalah Allah, termasuk kehidupan jin dan syetan. Sebetulnya Rasulullah sendiri –makhluk yang paling dekat dan paling bertaqwa kepada Allah-, juga tidak tahu akan hal yang ghaib. Beliau tahu yang ghaib sebatas apa yang diberitahukan oleh Allah kepadanya melalui wahyu yang beliau terima. Sehingga kita tidak boleh sok tahu akan hal-hal yang ghaib. Kalau berbicara hal yang ghaib, ikutilah sumber wahyu yang ada (al-Qur’an dan al-Hadits) agar kita tidak tersesat, dan iman kita terhadap yang ghaib tidak salah.

Yang kita maksud dari mitos di sini adalah informasi tentang kehidupan jin yang tidak sesuai syari’at Islam. Yang selama ini menjadi opini ghaib dan wacana mistik yang mayoritas masyarakat kita meyakini akan kebenarannya. Padahal mitos itu tidak benar adanya. Akibat dari keyakinan pada mitos yang salah itu, keimanan kita pada yang ghoib, terutama tentang kehidupan jin jadi menyimpang dari syari’at Islam. Lalu dari kesalahan itu melahirkan penyimpangan prilaku dan perbuatan. Akhirnya ia takut pada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lebih takut kepada jin dan syetan daripada takut kepada Yang menciptakan mereka, yaitu Allah.

Jin adalah bagian dari makhluk ghaib. Dan beriman kepada yang ghaib adalah bagian dari karakter dan sifat seorang mukmin yang bertaqwa (QS. al-Baqoroh: 1-5). Kalau keimanan seorang mukmin itu salah, maka akan terjadi kecacatan (kesalahan) dalam keimanannya. Berikut keyakinan yang salah kaprah (mitos yang tak perlu dibenarkan) dan sudah mewabah di masyarakat, serta diblow-up di berbagai macam media massa –cetak atau elektronik- yang harus segera diluruskan agar tidak merusak iman kita, atau kaum muslimin pada khususnya.

1. Jin tidak takut kepada manusia

Siapa yang berkeyakinan atau mengatakan bahwa jin tidak takut pada manusia, itu adalah pernyataan yang salah kaprah. Karena sesungguhnya jin itu sangat takut kepada manusia, melebihi ketakutan manusia kepadanya. Hanya saja, karena manusia sudah menjatuhkan martabatnya, sering menghamba kepda jin dan minta pertolongan serta perlindungan kepadanya, akhirnya jin besar kepala (sombong), dan manusia jadi bernyali ciut sehingga dihantui ketakutan kepada jin, melebihi ketakutannya kepada Allah.

Allah berfirman, “Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin: 6).

Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan, kronologi turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) adalah karena kebiasaan para saudagar di zaman Jahiliyah yang bila melalui lembah atau bukit, selalu minta perlindungan (permisi) kepada Jin penghuni lembah tempat tersebut. Mereka taku kalau tidak melakukan itu, hidupnya akan celaka. Padahal sebenarnya para Jin lembah itu takut saat mereka mau lewat. Mereka jadi sombong atas manusia.

2. Jin tidak bisa mati atau dibunuh

Siapa yang mengatakan bahwa jin tidak bisa dibunuh, berarti ia telah berbohong dan mendustakan syari’at Islam. Karena syari’at Islam sendiri menyatakan bahwa jin itu bisa mati seperti manusia. Yang diberi tangguh atau dipanjangkan umurnya sampai datang kiamat hanyalah Iblis, bagian dari jin, bukan jin secara keseluruhan.

Al-Qur’an mengisahkan: “Iblis berkata, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. al-A’raf: 14-15).

Rasulullah pernah berucap dalam lantunan do’anya, “Aku berlindung dengan Kemuliaan-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, yang tidak akan mati. Sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.” (HR. Bukhari).

3. Jin yang menampakkan diri tidak bisa disakiti

Kebohongan publik yang sering dilakukan media massa adalah, pernyataan bahwa Jin yang menampakkan diri dalam kehidupan nyata manusia tidak bisa disakiti. Kalau kita melakukan perlawanan, pasti akan sia-sia. Penampakkan jin dikesankan sebagai sosok sakti yang tak akan tersakiti, apalagi mati. Itu kedustaan terhadap apa yang telah dikabarkan Rasulullah.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ini ada jin yang telah masuk Islam. Oleh sebab itu, jika kalian melihat salah satu dari mereka, maka biarkanlah (izinkanlah) tiga hari. Jika setelah itu masih terlihat, maka bunuhlah karena ia adalah syetan.” (HR. Muslim).

4. Jin mengetahui semua keghaiban

Banyak manusia yang masih percaya bahwa para dukun itu punya koneksi dengan jin, padahal hakikatnya tidaklah begitu. Ada juga dukun palsu, alias pura-pura saja. Jika ada dukun yang diyakini bisa berteman dengan Jin, maka mereka yakin bahwa dukun itu tahu akan segala macam keghaiban, termasuk tentang nasib dan masa depan mereka, dan yang lain sejenisnya. Mereka yakin bahwa jin itu tahu segala macam hal-hal yang ghaib.

Ternyata keyakinan itu salah besar. Meskipun Jin itu makhluk ghaib, mereka tidak mengetahui semua yang ghaib. Pengetahuan mereka juga terbatas. Jin mengakui sendiri akan kelemahannya, tidak mengetahui sergala jenis keghaiban termasuk nasib manusia di bumi ini, “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”. (QS. Al-Jin: 10).

Kemudian di ayat lain, Allah berfirman, “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’: 14).

5. Jin takut kepada benda keramat atau jimat

Sering digambarkan di media massa bahwa Jin atau syetan akan takut dan lari terbirit-birit saat melihat jimat atau benda keramat lainnya. Bahkan kadang diinformasikan Jin itu terbakar saat mendekat atau memegangnya. Itu adalah kedustaan yang dilakukan oleh para dukun (agen-agen syetan) agar jimat buatan mereka laris manis. Dan sebenarnya tidak begitu.

Allah-lah yang paling paham tentang apa saja yang disukai jin atau yang ditakutinya, karena Dialah yang telah menciptakan mereka. Tidak ada satu ayat pun atau hadits Rasulullah yang menjelaskan bahwa jin takut pada jimat, isim, wifiq, rajah atau benda-benda pusaka lainnya. Justru yang diberitakan oleh syari’at Islam adalah syetan takut terhadap bacaan ayat-ayat suci atau do’a-do’a Rasulullah.

Misalnya sabda Rasulullah, “Sesungguhnya syetan pergi dan kabur dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah). Atau hadits lain, “Apabila kamu hendak tidur di pembaringan, bacalah ayat kursi sampai tuntas, karena Allah senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu sampai pagi”. (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).

6. Jin hanya bisa dikalahkan oleh dukun atau orang pintar

Kesesatan lain yang harus diluruskan adalah keyakinan banyak masyarakat akan kesaktian sosok manusia yang disebut dukun. Banyak orang yang yakin bahwa gangguan dan kejahatan syetan hanya bisa dikalahkan oleh kekuatan dukun. Sehingga mereka larinya selalu ke dukun bila ada orang yang kesurupan jin atau diganggu syetan. Itu opini sesat yang harus segera diralat.

Ketahuilah bahwa Jin atau syetan hanya takut kepada Allah dan orang-orang mukmin yang shalih yang banyak berdzikir. Kalau ada jin (syetan) takut pada dukun, itu hanya acting (pura-pura) agar kita selalu pergi ke dukun, dengan begitu kita akan masuk dalam perangkap syetan. Padahal datang ke dukun adalah perbuatan yang diharamkan.

Rasulullah bersabda, “...Dan aku perintahkan kalian untuk dzikir kepada Allah yang banyak. Perumpamaan orang yang banyak dzikir itu seperti orang yang dicari-cari dan dikejar oleh musuh. Lalu ia mendapatkan benteng kokoh yang bisa melindungi dirinya dari kejaran musuh. Begitulah seorang hamba, dia tidak akan selamat dai gangguan syetan kecuali dengan dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadits hasan shahih).

7. Jin muslim bisa dijadikan khadam atau teman

Racun akidah yang berbahaya dan banyak dihembuskan mereka yang sesat adalah pernyataan bahwa, “Kita boleh berteman atau minta bantuan kepada jin yang muslim”. Padahala tidak ada satupun perintah syari’at yang membolehkan kita untuk minta bantuan Jin. Bahkan malah sebaliknya, kalau kita minta bantuan jin maka dosa dan kesalahan kita semakin bertambah. Di sisi lain, jin itu makhluk ghaib, tidak bisa kita lihat wujud aslinya. Bagaimana kita bisa membedakan antara yang muslim dengan yang kafir. Kalaupun dia muslim, kita tidak tahu apakah ia muslim yang shalih, atau yang munafik, fasik atau murtad. Bisa saja dia aslinya kafir, lalu berubah wujud dan menampakkan diri sebagai muslim shalih, bahkan sosok ustadz atau kyai. Sebagaimana actingnya para pemain sinetron dalam dunia manusia.

Al-Qur’an menceritakan pengakuan jin, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. al-Jin: 11).

Allah berfirman, “Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin: 6).

8. Jin tidak bisa menyakiti manusia

Ada orang bilang bahwa Jin itu tidak bisa menyakiti manusia secara fisik, mereka hanya bisa mengganggu manusia secara non fisik. Sungguh, itu merupakan pernyataan yang salah. Jin bisa menyakiti manusia secara fisik, bahkan bisa membunuh dengan amarah dan dendamnya. Hanya saja kemampuan mereka umtuk melakukan hal itu terbatas. Dibatasi oleh kehendak Allah. Kalau Allah menghendaki kita celaka atau mati karena ulah jin, maka terjadilah. Kalau Dia tidak menghendaki, Jin manapun tidak bisa mencelakakan kita. Sehingga kita terkadang melihat orang yang kena santet (sihir), akhirnya mati dengan tragis dan misterius.

Al-Qur’an telah menceritakan bahwa Allah telah memberi izin ke Jin (syetan) untuk menyakiti Nabi Nuh ‘alaihis salam. Allah berfirman, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syetan dengan kepayahan dan siksaan’. Allah berfirman, ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 41-43).

9. Jin bisa dilihat manusia dalam bentuk aslinya

Ini termasuk penyesatan yang fatal. Banyak orang meyakini bahwa ada manusia khusus –selain nabi dan rasul- yang bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, bahkan mereka bisa masuk ke astral Jin dan memantau kehidupan mereka. Itu keyakinan yang sesat, bertentangan dengan syari’at. Yang benar, tidak ada seorangpun –selain nabi dan rasul yang bisa melihat jin dalam bentuk aslinya-. Kalau ada yang mengaku bisa melakukan hal itu, itu bohong. Kalaupun dia telah masuk ke alam Jin, itu bukan alam mereka sebenarnya, tapi tipuan dan ilusi saja.

Allah telah berfirman, “Sesungguhnya ia (syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa meliahat mereka." (QS. al-A’raf: 27). Ayat tersebut dengan jelas dan gamblang memberitahukan kepada kita semua bahwa makhluk halus (jin) dalam bentuk aslinya tidak bisa dilihat oleh mata atau ditangkap oleh kamera. Keculai kalau jin tersebut menampakkan diri.

Rasulullah bewrsabda, “Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka berlindunglah kepada Allah dari kejahatan syetan. Karena mereka (binatang tersebut) melihat apa yang tidak bida kalian lihat.” (HR. Abu Daud).

Maka dari itu Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya syetan bisa menampakkan diri dan melakukan penyerupaan yang bisa kita lihat wujudnya. Sedangkan firman Allah pada surat al-A’raf ayat 27, berlaku apabila jin dalam wujud asli penciptaannya.” (Kitab Fathul Bari: 9/ 55).

10. Jin disamakan dengan roh manusia yang telah keluar dari jasad

Termasuk keyakinan salah yang harus diluruskan adalah adanya roh gentayangan. Mereka meyakini bahwa roh orang yang mati tragis, terzhalimi atau tertindas, atau tidak wajar, maka rohnya akan gentayangan. Mereka sangat yakin, kalau ada orang yang telah meninggal secara tidak wajar, lalu di hari-hari berikutnya ada penampakan sosok orang tersebut, maka disimpulkan bahwa itu adalah roh yang gentayangan. Itu kesimpulan sesat-menyesatkan.

Roh orang yang telah mati, secara wajar atau tidak wajar, baik itu orang mukmin atau kafir, orang shalih atau brengsek, semuanya akan berada di alam barzakh (alam transit antara dunia dan akhirat). Di situ mereka akan merasakan adzab kubur atau nikmat kubur, tidak ada yang lepas lalu bergentayangan. Lalu siapa yang gentayangan, itu adalah jin (syetan) yang menampakkan diri dan menyerupai orang yang telah mati tersebut.

Allah berfirman, “Dan mereka bertanya kepada-mu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra’: 85). Rasulullah juga bersabda, “Tidaklah ada seorang di antara kalian kecuali disertakan untuknya qorin dari jin dan qorin dari malaikat.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Ibnu Mas’ud).

Dalam ayat lain Allah berfirman, "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang kafir”. (QS. az-Zumar: 42).



Bisakah Jin Di Tangkap Kamera?

“Waktu saya melihat tayangan alam ghaib, dalam tayangan tersebut dengan jelas terlihat gambar penampakan jin yang berhasil ditangkap kamera. Waktu itu berupa gumpalan asap putih di tengah kegelapan malam di sekitar lokasi syuting. Saya percaya bahwa itu adalah wujud jin, karena pihak televise sendiri telah memberikan garansi bahwa apa yang terlihat itu bukan rekayasa atau permainan kamera”, begitulah kata Asep seorang pelajar salah satu SMA negeri di Jakarta saat bercerita kepada teman-temannya seputar tayangan televisi yang dilihatnya semalam.

“Menurut saya, manusia yang mempunyai kekuatan supranatural yang tinggi akan bisa melihat keberadaan makhluk halus (jin) yang ada di sekitarnya. Bahkan ia bisa berkomunikasi dan mengendalikan serta memerintah makhluk halus tersebut. Itulah kehebatan yang diberikan Allah kepada mereka, karena kedekatan mereka dengan Allah”, komentar Yahya seorang Mahasiswa PTS yang ada di Jakarta sehabis mengikuti kajian alam ghaib di masjid kampusnya.

“Ustadz, saya Punya keponakan yang sangat sensitive dengan keberadaan makhluk halus. Ketika ia pergi ke suatu tempat, ia tahu bahwa tempat itu ditunggu oleh makhluk-makhluk aneh. Apakah kemampuan yang dimiliki keponakan saya itu bukan suatukelebihan yang iarang dimiliki oleh orang lain? Kalau begitu jin bisa dilihat oleh orang-orang tertentu? Apa pendapat ustadz?” begitu pertanyaan yang barangkali sering kita jumpai disekitar kita

“Bapak...! orang itu hebat pak ya? Dengan mata tertutup ia bisa melukis bentuk jin yang ada dalam rumah seseorang. Dan gambarnya jelas, tapi selalu seram. Dan hebatnya, ketika dikonfirmasikan kepada pemilik rumah, ternyata lukisan itu sama dengan penampakan yang pernah dilihatnya,” begitulah tanya seorang anak kepada bapaknya ketika mengamati salah satu adegan melukis jin dengan mata tertutup dalam tayangan reality show di layar kaca.

Benarkah jin bisa dilihat dalam bentuk aslinya? Benarkah kamera bisa memotret atau menangkap jin dalam bentuk aslinya? Dan benarkah ada orang-orang khusus bisa melihat keberadaan jin, Ialu memburu dan menangkapnya? Dan adakah amalan atau ritual yang bisa mengantarkan manusia mengarungi alam jin dan interaksi dengan mereka? Sederet pertanyaan ini jawabannya membutuhkan dalil yang valid dan akurat. Karena berkaitan dengan kehidupan makhluk ghaib yang bernama jin. Dan Perkara yang ghaib itu adalah urusan Allah semata, dan Nabi Muhammad sendiri hanyalah seorang Rasul yang mengetahui hal yang ghaib sebatas wahyu yang telah diterimanya (QS. Al-A’raf: 188).

Sedangkan bila ada pendapat orang tentang masalah ghaib, sehebat apapun ilmunya dan setinggi apapun kemampuan spiritualnya adalah pendapat belaka. Yang bisa kita tolak atau kita terima. Bila sesuai syari’at, pendapat itu kita terima. Tapi bila bersebrangan dan bertentangan, maka waiib kita tolak.

Padahal syari'at lslam telah menegaskan, “Sesungguhnya ia (syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27).

Ayat tersebut dengan jelas dan gamblang memberitahukan kepada kita semua bahwa makhluk halus (jin) dalam bentuk aslinya tidak bisa dilihat oleh mata atau ditangkap oleh kamera. Keculai kalau jin tersebut menampakkan diri. Maka dari itu lbnu Hajar berkata, “Sesungguhnya syetan bisa menampakkan diri dan melakukan penyerupaan yang bisa kita lihat wuiudnya. Sedangkan firman Allah pada surat al-A’raf ayat 27, berlaku apabila jin dalam bentuk wujud asli penciptaannya.” (Fathul Bari: 9/55).

Oleh karenanya, lmam Syafi’i tidak ragu lagi untuk menyatakan bahwa, orang yang mengaku dirinya bisa melihat jin dalam bentuk aslinya adalah pembohong besar dan layak ditolak kesaksiannya. Ar-Rabi’ berkata, “Saya mendengar lmam Syafi’i telah berkata, “Barangsiapa mengaku dirinya bisa melihat keberadaan jin (dalam bentuk aslinya), maka kami tolak kesaksiannya (alias pembohong, pen.), kecuali kalau dia seorang Nabi.” (Fathul Bari: 4/489).

Jadi, kalau ada kamera yang bisa menangkap keberadaan jin secara visual, berarti itu adalah wujud dari penampakan, bukan wujud asli. Seperti halnya, sekelompok orang yang berwisata lalu mengambil foto di lokasi tersebut. Kemudian hasil cetakannya ternyata ada gambar aneh yang tidak termasuk dalam obyek pemotretan. Kalau benar-benar bukan rekayasa atau bukan kesalahan studio dalam mencetak, berarti itu adalah penampakan dari jin yang ada di lokasi tersebut. Tapi jangan lupa, peralatan teknologi sekarang sangat canggih. Kemungkinan penampakan sebagai suatu rekayasa bukanlah suatu yang mustahil. Bisa saja penampakan itu hasil rekayasa teknologi, lalu diklaim sebagai wujud asli. Atau itu diperankan oleh manusia, lalu dikatakan sebagai jin yang menampakkan diri. Yang pasti, jin tidak mudah baginya untuk menampakkan diri karena harus melalui proses yang tidak mudah, aaalagi bila untuk berakting cari duit. Kecuali kalau mereka dipuja dan diberi sesaji terlebih dahulu, atau jin itu memang meniadi piaraan orang yang bersangkutan, sehingga ia siap selalu untuk menuruti kemauan Pemujanya.

Memang ada orang-orang khusus yang bisa melihat keberadaan jin dalam bentuk aslinya, di antaranya adalah Muhammad Rasulullah. Dan menurut pendapat lmam Syafi’i, Nabi dan Rasul adalah komunitas yang dikecualikan dari surat al-A’raf ayat 27.

Sebagaimana yang diielaskan Allah dalam al-Qur’an, “(Dialah Allah) yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. al-Jin: 26-27).

Dan untuk sekarang, era kenabian dan kerasulan sudah berakhir dengan berakhirnya kehidupan Nabi Muhammad bin Abdillah. Artinya tidak lagi wahyu yang turun, dan tidak ada iuga orang yang diberi keistimewaan oleh Allah untuk bisa melihat makhluk ghaib, seperti jin. Kalau yang dimaksud dengan kemampuan spiritual yang tinggi adalah orang yang banyak ilmu klenik dan supranaturalnya, maka sangatlah wajar kalau mereka mengklaim bisa melihat jin. Karena mereka memang ada keterikatan dan kerjasama dengan syetan jin. Tapi kalau yang dimaksud dengan spiritual yang tinggi adalah orang yang banyak ibadah kepada Allah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Maka ketahuilah banyaknya ibadah seseorang tidaklah menyebabkan pelakunya bisa mengarungi alam jin. Karena para shahabat Rasulullah adalahgenerasi yang banyak ibadah, tetapi tak ada seorang pun dari mereka yang mengklaim bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, apalagi mengarungi alam jin. Karena tujuan beribadah sebenarnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada jin.

Kalau zaman sekarang ada yang mengaku bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, berarti ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia berbohong sebagaimana yang dikatakan oleh Imam syafi’i. Sebenarnya dia tidak melihat keberadaan jin dalam bentuk aslinya, tapi dia berbohong dan mengaku-ngaku sedang melihat makhluk tersebut. Kemungkinan yang kedua, ia melihat jin yang sedang menampakkan diri, dan bukan dalam bentuk aslinya. Tapi ia mengklaim bahwa itulah bentuk asli jin. Yang ketiga, ia tidak melihat jin baik dalam bentuk asli atau dalam penampakan. Apa yang dilihat itu hanyalah halusinasi dan imajinasi belaka. Yang keempat, ia terganggu dirinya oleh jin sehingga sensitive terhadap keberadaan jin. Kasus seperti ini terkadang dialami oleh seseorang dan itu bukan kelebihan, tapi kelainan yang harus segera diterapi. Yang kelima, ia berkolaborasi dengan jin melalui ilmu sihir. Dengan ilmu sihir itu, dia dapatkan informasi bahwa di lokasitersebut ada sekian jin dalam bentuk begini-begini. Dan kemungkinan yang kelima inilah yang banyak berkembang dan diajarkan oleh banyak orang, padahal cara itu dilarang dan diharamkan oleh syari'at lslam. Allah berfirman, “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengajarkan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengajarkan sihir).” (QS. Al-Baqarah: 102).

Dengan demikian, berbahagia dan bersyukurlah Anda jika tidak bisa melihat keberadaan jin di sekitar Anda. Karena kondisi Anda masih normal, sesuai dengan ketentuan Allah. Sedangkan bagi orang yang sensitif dengan keberadaan jin atau bahkan bisa melihat keberadaan mereka, maka segeralah memohon kesembuhan kepada Allah. Mohonlah kepada-Nya agar kondisi Anda bisa normal kembali sebagaimana layaknya manusia. Kalau penampakan jin bisa terjadi dan bisa dilihat oleh mata kepala, sebagaimana yang pernah dilihat orang-orang musyrikin pada perang Badar, yang menampakkan diri sebagai Suraqah bin Malik. Atau saat mereka berada di Darun Nadwah mencari siasat untuk membunuh Rasulullah, jin menampakkan diri sebagai seorang kakek. Atau seperti yang dilihat Abu Hurairah saat menjaga harta Zakat, jin menampakkan diri sebagai seorang yang berumur paruh baya. Atau seperti yang dilihat oleh Ubay bin Ka'ab, jin menampakkan diri sebagai sosok remaja. Atau yang dilihat oleh seorang shahabat dan isterinya, jin menampakkan diri sebagai ular. Lalu dibunuh oleh shahabat tadi, dan tidak lama berselang shahabat itu juga mati. Semua penampakan di atas bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan keautentikannya dalam kitab-kitab hadits shahih yang ada. Kalau penampakan seperti itu yang dimaksud, maka kita tidak membutuhkan kamera digital. Karena dengan mata kepala saja, penampakan itu bisa dilihat. Sehingga kita ambil gambarnya melalui kamera pun bisa, atau divisualisasikan melalui syuting film.

Jadi tidak ada yang aneh dan patut diacungi jempol, bila beberapa media televise sekarang banyak mengekspos penampakan jin. Tapi kalau mereka mengklaim bahwa gambar tersebut adalah wujud asli jin yang terekam oleh kamera, maka kita wajib untuk tidak mempercayainya, karena bertentangan dengan teks dalil syari'at lslam. Begitu juga kalau ada yang menawarkan amalan untuk bisa melihat wujud asli jin, maka janganlah bergeming atau tergiur. Karena amalan itu pasti menyimpang. Sebab jin dalam bentuk aslinya memang tidak bisa diiihat, dan itu sudah menjadi ketetapan Allah sebagai Penciptanya.

Kawin Dengan Jin Karena Ingin Jadi Kaya Raya

Menurut kabar yang beredar ditengah masyarakat, di Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, kerap dilakukan ritual perkawinan manusia dengan jin. Perkawinan ini dilakukan oleh orang-orang yang kepepet atau terdesak kebutuhan ekonomi. Namun menurut kabar yang lain, perkawinan manusia dengan jin ini juga kerap dilakukan untuk mendongkrak bisnis atau usaha seseorang agar lebih maju. Tulisan ini hanya sekedar untuk membukan dan menambah wawasan kita saja, tidak untuk ditiru. Bagaimanapun juga perbuatan yang menggantungkan pada selain Allah, adalah perbuatan syirik. Berikut ini kisahnya.

Menjelang Maghrib, beberapa orang baru tiba di rumah sang spiritualis yang sering mengawinkan manusia dengan jin ini. Jauh dari keramaian dan hingar bingar, rumah spiritualis itu berada di kaki gunung Salak, Cidahu, Sukabumi.

Meski jauh dari keramaian kota besar, rumah-rumah di kampung ini nampak permanen, tertata rapih dan terkesan megah untuk ukuran orang kampung. Tak hanya itu, hampir di setiap rumah terparkir sebuah mobil dan motor baru yang mensiratkan status sosial penduduk kampung ini. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tak lama berselang, seorang Ustad, spiritualis yang didatangi muncul dari balik ruang keluarga rumahnya. Seperti layaknya orang kampung, ustad menyambut kedatangan dengan hangat. Sejumlah kalimat dan kata-kata sambutan pun keluar dari mulut ustad tersebut.

Ternyata ustad yang kerap mengawinkan manusia dengan jin ini masih cukup muda, usianya diperkirakan belum genap 40 tahun. Meski begitu dari gaya bicara dan auranya nampak jelas bahwa ustad muda ini memiliki ilmu kedigjayaan yang cukup.

Setelah cukup basa-basi, beberapa orang tersebut langsung mengutarakan maksud kedatangan kali ini. Nampak ustadz seperti berpikir sejenak, entah apa yang ada di kepalanya. Namun sesaat kemudian dia pun berkomentar.

“Saya memang sering mengawinkan orang dengan Jin Islam, tapi saya tidak sependapat jika ini dikatakan musyrik. Perkawinan ini hanya sebatas usaha manusia untuk memperbaiki kehidupannya,” tutur sang ustad.

Untuk melihat lebih jelas ritual perkawinan manusia dengan Jin ini, ustad mengajak rombongan ke lokasi dimana dia sering melakukan ritual. Kebetulan malam itu ada 3 orang yang minta dikawinkan dengan jin.



Ternyata untuk menuju lokasi tempat perkawinan manusia dengan jin ini cukup jauh, sekitar 2 atau 3 kilometer di belakang rumah ustad. Melintasi perkampungan menuju sebuah lembah di perbatasan kampung dengan hutan gunung Salak, tibalah kami pada sebuah rumah di pinggir kali.

Aura mistik kontan menyengat seketika tiba di rumah itu. Jelas sekali aura rumah dengan 8 ruang besar ini penuh dengan kekuatan gaib yang menyelimutinya. Tanda-tanda kekuatan gaib dan aura mistik itu dapat dirasa dan dilihat dengan kasat mata.

Dari pengamatan, kekuatan gaib dan aura mistik yang nampak jelas ini terjadi akibat seringnya proses ritual perkawinan dengan jin di rumah ini. “Di rumah inilah prosesi ritual itu dilakukan. Kami akan memanggil jin dari manapun untuk dikawinkan disini,” Ujar ustadz muda tersebut.

Sambil berkeliling di dalam rumah dan sekitar halaman, ustad menjelaskan syarat dan proses ritual perkawinan dengan jin. Dalam rumah itu ada 8 orang yang malam ini akan dikawinkan dengan Jin. Menurut ustad, umumnya orang menikah dengan jin karena terjepit masalah ekonomi. Ada yang terbelit utang, perusahaannya bangkrut dan ada pula yang ingin perusahaannya lebih maju.

Jin yang dinikahinya itu akan menjadi istri atau suami di alam gaib. Sebagai istri atau suami, jin itu juga punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Maka jin itu pun diminta untuk bisa menghasilkan uang bagi orang yang menikahinya. “Jadi jin itu akan membantu kita menghasilkan uang,” tutur ustad.

Hanya orang Muslim saja yang bisa menikah dengan jin. Karena menurutnya jin yang dipanggilnya adalah dari golongan muslim yang tinggal diberbagai penjuru dunia. Misalnya jin dari Baghdad, Turki, Mesir, Kuwait, Mekkah, Banten, Demak dan sebagainya.

Selain itu, orang yang bisa dikawinkan dengan jin juga harus mempunyai pekerjaan atau kegiatan bisnis. Karena jin itu tidak mendatangkan uang dalam bentuk cash. “Jin itu akan membantu kita mencari uang dari jerih payah kita sendiri,” jelas ustad.

Usai menjelaskan panjang lebar soal prosesi perkawinan dengan jin, ustad langsung mengajak kami ke satu kamar tempat dia melakukan ijab kabul. Di kamar gelap berukuran 5 kali 5 meter itu sudah ada 3 orang menunggu. Mereka adalah seorang saksi nikah, medium dan orang yang akan dinikahkan dengan jin.

Udara pengab dengan aroma kemenyan dan bunga setaman menyengat hidung. Jelas sekali lelaki yang akan dinikahkan dengan jin itu terlihat gugup. Sesekali dia menyeka wajahnya dengan sapu tangan. Namun sesaat kemudian dia menoleh ke kiri, kadang ke kanan dan ke belakang, seperti ada yang dilihatnya.

Sesaat kemudian, ustad mulai membacakan doa-doa khusus, tawasul dan mengirim doa. Dia mengirim doa untuk para nabi, leluhur dan para penghuni gaib yang menguasai bumi ini. Terakhir ustad kemudian mengirim doa khusus untuk leluhur Tanah Banten dan penghuni gaib Masjid Agung Banten. Ternyata malam itu ustad akan menikahkan seorang tamunya dengan jin wanita dari Masjid Agung Banten yang bernama Salsabila Su’a Binti Syech Humaid Kazman.

Setelah sepuluh menit ustad membacakan doa-doa dan mantra suasana kemudian hening. Hanya sesekali ustad terdengar mengucap nama Salsabila Su’a. Nampak mata ustad muda ini terpejam, tapi mulutnya tetap komat-kamit.

Sesaat kemudian dia kembali membuka matanya sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Tiba-tiba angin terasa berhembus entah dari mana datangnya. Tak seorang pun diantara kami yang berani berkata-kata. Namun ketegangan nampak jelas dari raut wajah semua orang yang mengikuti prosesi ritual ini.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba seorang perempuan yang duduk persis di samping orang yang akan dinikahkan dengan jin menjerit melengking. Tentu saja jeritan perempuan itu membuat seisi kamar kaget bukan kepalang. Kejadian tersebut hampir saja membuat beberapa orang beringsut ke belakang saking kagetnya mendengar suara lengkingan itu.

Tak cukup disitu saja, perempuan paruh baya itu kemudian menceracau seperti orang kesurupan. Suranya yang tadi tenang kini berubah tak karuan. “Jin Salsabila Su’a itu sekarang sudah merasuki tubuh wanita itu. Berarti kita sudah siap melakukan prosesi ijab kabul pernikahan,” tutur ustad.

Seperti layaknya pernikahan manusia dengan manusia, ustad Yusuf kemudian membacakan sighot taqliq. Kedua pengantin, saksi dan wali nikah bersiap untuk ijab kabul. Doa-doa nikah dan Kalimat Syahadat pun dibacakan sebagai pertanda bahwa yang dinikahkan itu adalah Jin Muslim.

Pengantin pria yang dinikahkan dengan Jin Salsasbila Su’a ini masih nampak gugup dan takut. Berkali-kali dia salah mengucapkan nama Jin Salsabila Su’a. Berkali-kali pula dia mengusap wajah dan merubah posisi duduknya.

“Salsabila Su’a binti Syech Humaid Kazman, apakah kamu bersedia dinikahkan dengan….?” Tanya ustad dengan suara berat bergetar.

“Saya bersedia,” tutur Jin Salsabila dengan suaranya yang melengking nyaring.

“Jin Salsabila Su’a binti Syech Humaid Kazman, apakah kamu bersedia membantu masalah ekonomi suamimu?” tanya ustad Yusuf kemudian.

“Saya bersedia, tapi suamiku juga harus memenuhi semua syaratku,” jawab Jin Salsabila Su’a lagi.

Usai itu, Jin Salsabila Su’a ini kemudian menerangkan semua persyaratan yang harus dipenuhi oleh suaminya dari bangsa manusia. Kurang lebih sepuluh menit berlangsung, prosesi itu pun selesai dan berjalan sesuai aturan. Kini pengantin pria itu berhak atas Jin Salsabila Su’a dan boleh memperlakukannya sebagai istri.

Meski hampir sama dengan proses pernikahan manusia dengan manusia, proses pernikahan dengan jin ini tentu saja ada bedanya. Sebab tujuan utama manusia menikah dengan jin ini tentu saja bukan dilatarbelakangi oleh syahwat.

Tapi lebih dikarenakan permintaan manusia agar sang mempelai jin bisa membantu menyelesaikan masalah ekonomi pengantin manusia. Saat proses ritual terjadi, pengantin manusia ditanya mengapa dia mau menikah dengan jin Salsabila Su’a. “Saya terbelit utang ke bank, saya ingin membayar hutang itu dan mempunyai harta yang cukup,” tutur pengantin manusia.

Usai prosesi ritual itu ustad Yusuf menjelaskan, tidak semua proses ritual ini berjalan mulus karena ada kalanya pengantin jin menolak dinikahkan. Misalnya karena jin itu tidak suka dengan penampilan manusia yang tidak sesuai.

Atau ada kalanya jin itu menolak karena minta mas kawin yang tak sanggup dipenuhi manusia. “Tapi pada umumnya semua jin yang saya panggil mau dinikahkan dengan siapa saja,” jelas ustad mengakhiri perbincangan.

Berteman Dengan Kaum Jin Mungkinkah?

Sering kita dengar banyak orang mengatakan bahwa berteman dengan jin itu sah sah saja, boleh saja, toh tak ada satu ayatpun maupun hadist yang melarang pertemanan antara jin dan manusia. Asal satu sama lain saling menghormati, mengapa tidak. Begitu alasan mereka.

Apabila berhubungan dengan sesama manusia hendaknya kita saling menjaga dan saling menghormati, maka dalam berhubungan dengan makhluk lain selain manusia, sesama makhluk Allah, juga hendaknya sama sama saling menjaga dan mengormati. Begitu pula dengan hubungan pertemanan antara manusia dan jin. Namun demikian rasanya perlu dikaji sampai sejauh mana manfaat dan mudharatnya pertemanan tersebut.

Sebagaimana yang kita tahu, jin adalah makhluk yang tidak kasat mata. Bila ada orang yang mengatakan bahwa dia bisa melihat jin, itu artinya dia tidak melihat dengan mata fisik seperti halnya kita melihat benda benda disekitar kita. Sebenarnya lebih tepat kalau kita sebut merasakan keberadaan jin dengan rasa yang tidak menipu dan rekayasa. Yaitu rasa yang polos, jujur, apa adanya pada situasi kejiwaan, pada posisi nol.

Makhluk Allah itu bisa dilihat, bilamana makhluk itu memiliki panjang gelombang dan kepadatan materi tertentu yang membuat mata kita bisa merespon keberadaan makhluk tersebut. Berbeda dengan jin, panjang gelombang dan kepadatan materinya jauh berbeda dengan makhluk makhluk lainya, sehingga mata fisik tidak bisa menangkap keberadaannya.

Bukankah Allah telah berfirman: “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(QS. Al A’raf 27).

Jin memiliki sifat aktif sebagaimana manusia yang memiliki kehendak dan nafsu tertentu. Salah satu kehendak jin, dalam konteks hubungan antar dimensi adalah menampakkan diri ke dalam wujud fisik sehingga panjang gelombang dan kerapatan materinya bisa tertangkap oleh mata manusia.

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Al Bukhari).

Berbeda dengan jin yang dikaruniai mata untuk bisa melihat dunia fisik yang dihuni manusia, manusia secara umum tidak bisa melihat jin, manusia hanya merasakan keberadaan jin, apalagi berkomunikasi secara intensif dengan jin. Meskipun demikian, manusia manusia juga diberkahi sebuah alat canggih untuk meraba, merasa, menangkap eksistensi yang tidak kasat mata. Alat canggih itu semacam radar yang ditanamkan di otak manusia. Terletak pada sistem limbik dimana di sana juga menjadi pengendali emosional, rasa, batiniah manusia.

Mengapa banyak orang yang ingin berteman dengan jin?

Hubungan manusia dengan jin yang ideal adalah hubungan pertemanan, kita bisa meminta mereka untuk melakukan sesuatu dengan sukarela. Bila mereka mau ya monggo namun bila mereka tidak mau ya jangan dipaksa. Kecuali bila jin sudah mengganggu kita, maka manusia wajib untuk mempertahankan diri dan meminta mereka dengan cara yang santun dan beretika

Banyak orang yang ingin berteman dengan jin dengan tujuan memanfaatkan jin untuk kepentingan dia. Antara lain, agar supaya sakti, kebal bacok, bisa meramal, bisa mengobati orang sakit dalam waktu yang amat singkat, supaya cepat kaya, dan banyak macam lagi.

Siapapun orangnya pasti ingin tampil beda dibanding dengan orang lain, siapapun dia pasti pingin sakti, pingin punya kelebihan-kelebihan. Orang yang mempunyai kelebihan dibanding dengan orang kebanyakan pasti akan dihormati orang lain. Orang yang punya kesaktian pasti akan dielu elukan oleh masyarakat sekitar. Itulah sebabnya banyak orang pingin sakti, walaupun dengan jalan berteman dengan jin, yang tentunya diawali dengan ritual ritual tertentu.

Kalaupun toh kita sudah berhasil memetik buah dari pertemanan kita dengan jin, yaitu sakti, maka ingat, suatu ketika kita pun akan ditagih oleh jin upah sebagai balas jasa jin memenuhi keinginan dan nafsu manusia yang minta pertolonganya.

Bukankah Allah telah mengingatkan kita dengan firmanNya: “Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 60)

Sementara Rasulullah bersabda, dalam satu hadistnya “Sesungguhnya syetan telah berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi Keagungan-Mu, aku akan terus-menerus menggoda hamba-hamba-Mu selama roh mereka berada dalam jasad mereka (masih hidup)” (HR. Ahmad dan Hakim).

Apa manfaat sebenarnya berteman dengan jin?

Saudaraku, sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali berkawan dengan jin, dengan tujuan apapun, tidak ada manfaatnya. Mau kaya, Jin itu bukanlah pemodal yang memberikan kita uang banyak. Dia justru membuat kita bangkrut karena kita tersandera oleh kesesatan berpikir dan malas berusaha. Mau disukai lawan jenis, Jin itu bukan peñata rias wajah dan motivator yang bisa menyulap wajah dan kepribadian kita menjadi lebih baik. Malah sebaliknya, wajah kita kusut habis dan kepribadian kita yang sesungguhnya terenggut.

Mau berwibawa. Jin itu bukan guru dan pembimbing yang mengajari kita soal kpepemimpinan dan ketauladanan. Sebaliknya dia membuat kita lepas kendali dan melakukan hal-hal yang justeru menjauh dari agama. Mau jadi jawara dan gagah. Jin tak memberi kita ilmu melatih fisik yang benar, sehat dan berkembang. Jin justru menjerumuskan kita pada pola hidup tidak sehat dan mengobarkan api kemarahan dalam diri kita.

Jadi, kalau begitu mengapa sangat bernafsu ingin berteman dengan Jin. Bila anda ingin coba coba untuk berteman dengan jin dengan tujuan tertentu, maka sebaiknya jangan. Karena banyak saudara saudara kita yang sampai saat ini tidak bisa kembali ke dunia normal, sebagaimana kita, bahkan mati masih dalam pengaruh jin. Mari kita berlindung pada Allah dari hal buruk seperti itu.

Dakwah Nabi Muhammad SAW Kepada Bangsa Jin

Suatu ketika, Al-Qamah bertanya kepada Ibnu Mas’ud perihal siapa saja yang telah menemani Rasul untuk menemui bangsa jin (baca: untuk berdakwah). Saat itu, Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa suatu malam, para sahabat pernah tidak melihat Rasulullah saw. Setelah dicari, Rasul tetap tidak kelihatan. Para sahabat pun sangat khawatir. Apalagi, saat itu kaum kafir Quraisy sedang gencar-gencarnya melancarkan tipu muslihat untuk mencelakakan Nabi saw. Mereka mengira, beliau telah diculik kaum kafir Quraisy. Sepanjang malam, para sahabat dilanda kegelisahan dan perasaan yang tidak menentu. Mereka tidak bisa tidur karena menunggu kabar tentang keberadaan Rasulullah.

Nabi berdakwah kepada bangsa jin, mungkinkah? Ya, dalam berdakwah, Nabi tidak saja didatangi para jin muslim, tapi juga kerapkali mendatangi tempat jin berkumpul.

Menjelang pagi hari, mereka melihat Rasulullah muncul dari arah gua Hira. Melihat kedatangan Rasulullah tersebut, serentak para sahabat sangat lega dan gembira. Mereka kemudian mengabarkan kepada Rasulullah ihwal kegelisahan mereka selama semalam suntuk karena tak melihat beliau.

Mereka pun melontarkan kekhawatiran mereka perihal keselamatan Nabi saw dan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mereka perkirakan bakal menimpa Rasul. Mereka merasa bersyukur, karena Nabi yang mereka cintai ternyata tidak mengalami peristiwa seperti yang mereka khawatirkan.

Rasul dapat memahami kekhawatiran para sahabatnya itu. Beliau pun kemudian menjelaskan tentang apa sebenarnya yang telah terjadi kepada dirinya, “Sesungguhnya para mubaligh dari bangsa jin telah datang menemuiku. Maka, mereka kudatangi dan kemudian aku membacakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mereka.”

Untuk meyakinkan para sahabat tentang apa yang beliau katakan, Rasulullah mengajak para sahabat menelusuri jejak beliau. Pada jejak-jejak itu juga terdapat jejak para jin yang berkumpul dan bekas api yang mereka bawa sebagai alat penerangan.

Menurut penafsiran Al-Suhaili sebagaimana dilansir Abu Azka Fathin Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M dalam buku Bercinta Dengan Jin, jin yang masuk Islam lewat bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang diperdengarkan oleh Rasulullah semula berasal dari agama Yahudi, yaitu pengikut Nabi Musa as.

Sementara Ibnu Salam memiliki pandangan yang sama tentang hal itu. Ia menambahkan, peristiwa tersebut berlangsung dalam masa tiga tahun sebelum ia hijrah ke Madinah. Juga sebelum terjadinya peristiwa Isra Mi’raj.

Adapun mengenai jumlah jin yang hadir saat itu, menurut Ibnu Ishak, ada tujuh jin saja. Ibnu Hatim menjelaskan secara lebih spesifik lagi. Menurutnya, dari tujuh jin itu, tiga jin berasal dari Haran dan empat jin dari Nashibin.

Menurut Al-Tsauri, yang diberitakan oleh Ashim dan bersumber dari Zurr bahwa jin yang hadir itu berjumlah sembilan jin. Sedangkan pendapat Al-Tsauri yang diriwayatkan Ikrimah, jumlahnya melonjak secara fantastis, yaitu dua belas ribu jin.

Terlepas mana yang benar dari jumlah-jumlah tersebut; yang jelas, pertemuan Rasulullah saw dengan bangsa jin tiada lain adalah untuk mendakwahkan agama tauhid kepada mereka. Di antara para jin yang pernah ikut mendengarkan dakwah Rasulullah saw tersebut, menurut Ibnu Durair, adalah Syashir, Mashir, Munsyini, Masyie dan Al-Ahqag.

Dalam buku Laskar Api: Buku Paling Pintar tentang Jin karya Ruqayyah Yaqubi disebutkan bahwa ada suatu malam yang disebut dengan istilah lailatul jin (malam jin). Artinya, suatu malam di mana Rasulullah mendatangi para jin untuk berdakwah: mengajarkan agama dan memperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an. Istilah ini semakin menegaskan bahwa ada hari-hari tertentu di mana Nabi akan mendatangi bangsa jin untuk berdakwah.

Tempat jin yang didatangi Rasul untuk berdakwah berbeda-beda: kadang gua, kadang pula pohon besar dan sebagainya. Misalnya, seperti disebutkan Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M, bahwa suatu ketika Allah pernah mendatangkan kepada Nabi sekelompok jin untuk belajar agama kepadanya. Konon, sebuah pohon besar kemudian menawarkan dirinya kepada Nabi sebagai tempat berkumpulnya para jin yang hadir tersebut. Para jin itu pun datang dan lalu belajar agama kepada Nabi. Setelah itu, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan apa yang telah dipelajarinya dari Rasul.

Mengajak Sahabat

Dalam dakwahnya kepada bangsa jin, Nabi kerapkali mengajak sahabatnya untuk melihat apa yang dilakukannya tersebut. Menurut Ibnu Mas’ud, suatu malam, Rasulullah saw pernah bersabda kepada para sahabat, “Barangsiapa pada malam ini ingin mengetahui masalah yang berkaitan dengan jin, maka ayo, ikutilah saya.”

Ternyata, tak ada seorang pun yang berani menyatakan kesediaannya untuk ikut bersamanya. Biasanya, diamnya para sahabat itu bukan karena mereka takut atau tidak mau mengikuti Nabi saw. Akan tetapi, mereka merasa segan kepadanya. Rasa hormat dan sifat ingin memuliakan Nabi saw yang begitu besar menyebabkan mereka tidak banyak bicara di hadapannya. Pada kesempatan itu, Ibnu Mas’ud memberanikan diri untuk usul kepada Rasulullah. Ia menawarkan diri agar dapat menyertainya. Akhirnya, Rasulullah saw mengajak Ibnu Mas’ud pergi menuju dataran tinggi di kota Mekkah. Setelah sampai, ia membuat garis di tanah dengan menggunakan jari kaki. Ibnu Mas’ud diperintahkan untuk duduk di garis itu. Setelah ia duduk, kemudian Rasulullah saw berjalan menjauh dari tempat Ibnu Mas’ud duduk.

Dari kejauhan, Ibnu Mas’ud masih dapat melihat Rasulullah dengan jelas. Ia berhenti di suatu tempat dan kemudian membaca ayat-ayat al-Qur’an. Tak lama kemudian, Ibnu Mas’ud melihat banyak orang mengerumuni Rasulullah saw. Ia tak tahu dari mana arah datangnya mereka itu. Tiba-tiba saja mereka muncul dan mengelilingi Rasulullah saw. Bersamaan dengan itu, Ibnu Mas’ud tidak bisa lagi melihat tubuh Rasulullah dan bacaan al-Qur’an beliau sudah tak dapat didengar olehnya.

Ketika penyampaian ayat-ayat al-Qur’an itu telah selesai dibaca Rasulullah, Ibnu Mas’ud melihat orang-orang itu mulai pergi meninggalkan Rasulullah secara bergerombol. Mereka tampak seperti mega yang berarak-arakan di atas langit. Namun, ada satu kelompok lagi yang masih tetap tinggal bersamanya. Rasulullah terlihat masih menyampaikan dakwah kepada sekelompok jin tersebut sampai fajar tiba.

Setelah itu, ia menyudahi pertemuan dan kembali mendekat ke arah Ibnu Mas’ud yang masih setia duduk menunggu. Kepada Ibnu Mas’ud, Rasulullah bertanya, “Lihatlah, apakah yang mereka kerjakan?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Ya Rasulullah, begitulah mereka.”

Mendengar jawaban Ibnu Mas’ud demikian, Rasulullah kemudian mengambil sebatang tulang dan kotoran. Ia memberikannya kepada para jin yang masih menunggu di situ sebagai bekal mereka. Setelah itu, ia bersabda, yang isinya melarang siapa pun beristinja atau bersuci dengan menggunakan tulang dan kotoran.

Pada masa itu, di negeri gurun pasir, tulang hewan dan kotoran acap kali menjadi kering-kerontang. Orang yang kurang hati-hati, bisa jadi akan mengambil salah satunya sebagai alat untuk beristinja setelah membuang hadats besar atau hadats kecil. Padahal, jika air tidak ditemukan, alat yang dibolehkan untuk beristinja adalah batu.

Dalam riwayat lainnya dengan sumber yang sama, yaitu dari Ibnu Mas’ud, dikatakan bahwa pada saat itu Ibnu Mas’ud sempat melihat dan mendengar ada jin yang bertanya pada Rasulullah saw, “Siapa yang telah bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah?”

Rasul kemudian menunjuk ke arah sebuah pohon yang tumbuh di dekat situ, seraya balik bertanya, “Apakah jika pohon yang berada di dekat kalian itu mau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah, maka kalian akan ikut beriman?”

Bersamaan dengan itu, Ibnu Mas’ud melihat tiba-tiba saja pohon itu menggerakkan cabang-cabangnya. Kemudian Rasulullah bersabda kepada pohon itu, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Pohon itu lalu mengeluarkan suara sebagai jawaban, “Ya. Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah saw.”

Demikian salah satu model dakwah Nabi kepada bangsa jin. Jadi, kadang Nabi mendatangi para jin tersebut di sebuah tempat tertentu, seperti pohon besar, gua, dan sebagainya; dan kadang pula mereka sendiri yang mendatangi Rasul untuk belajar agama. Dalam dakwahnya itu, Nabi juga kadang mengajak sahabatnya dan kadang pula sendirian. Yang jelas, apa yang dilakukan Rasul benar-benar sebuah perjuangan yang sangat berat. Sebab, ia tidak saja berdakwah kepada manusia, tapi juga kepada bangsa jin. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapatkan syafaatnya di akhirat nanti! Amin.

Ketika Jin Tidak Takut Kepada Orang Yang Membaca Al-Quran

Sering kita jumpai dalam realita kehidupan bahwa banyak orang yang membaca al qur’an tapi masih bisa diganggu oleh jin. Lalu sering pula kita saksikan dalam tayangan dunia lain atau uji nyali alam gaib, peserta uji nyali malah keder atau ketakutan walaupun sudah membacanya ayat ayat Qur’an misalnya ayat kursyi, surat yasin, atau surat surat yang lain.

Apakah Al Qur’an sudah tidak ampuh lagi? Atau jin setan sudah kebal terhadap bacaan Al Qur’an?

Fenomena ini sering terjadi dan kadang sering membuat orang-orang menjadi galau, menjadi tidak percaya lagi pada ayat-ayat Al Qur’an, dan akhirnya malah lari dari ayat-ayat Al Qur’an, dan malah mencari selain ayat-ayat Al Qur’an karena iming-iming yang luar biasa dari suatu amalan atau mantera atau ajian tertentu yang bila diamalkan atau akan bisa mengalahkan bahkan mengendalikan jin setan.

Bahkan kadang dengan bisa mengendalikan jin ada bonus lain, misalkan rejeki lancar atau kaya, bisa sakti atau di hormati orang lain, bisa mempengaruhi orang lain dan banyak lagi bonus yang memanjakan nafsu anak manusia.

Hal-hal tersebut sangat tidak baik apalagi jika ditonton oleh anak kecil yang masih bersih.

Bila anak-anak kecil menonton hal tersebut pasti akan mempertanyakan kenapa jin tidak takut pada orang yang membaca ayat-ayat Al Qur’an, lebih parah lagi jika sudah menonton tayangan pemburu hantu, pasti dalam benaknya tertanam bahwa orang-orang yang bisa mengalahkan atau mengusir hantu atau jin harus dengan acara mengeluarkan tenaga dalam dan lain sebagainya.

Mungkin anda pernah mendengar ketika ada orang yang kesurupan dan coba diobati atau dibacakan ayat kursyi tapi jin dalam tubuh orang yang kesurupan tersebut malah mentertawakan dan bahkan menyalahkan tajwid dan mengajari ngaji.

Pernah suatu ketika ada kejadian didekat rumah teman yang biasa kami jadikan tempat untuk dzikir. Didekat rumah teman tersebut terjadi kesurupan.

Orang-orang yang ada dirumah tersebut mencoba menolong dan membacakan ayat kursyi namun malah ditertawakan karena tajwidnya salah dan malah diajari ngaji yang benar oleh jinnya.

Karena gaduh teman saya keluar rumah. Setelah tahu bahwa terjadi kesurupan, teman saya menyuruh orang yang kesurupan untuk dibawa masuk kedalam rumahnya, dan dibawalah orangyang kesurupan itu masuk keruma teman, namun baru sampai didepan pintu halaman saja jinnya sudah meronta dan pamitan mau kabur dan benar orang yang kesurupan tersebut akhirnya sadar hanya dibawa masuk kehalaman rumah teman saja.

Hal-hal tersebut terjadi adalah karena imannya tidak seratus persen untuk Allah. Ada beberapa bagian imannya yang diberikan untuk selain Allah, jin setan misalnya.

Jika orang tersebut percaya bahwa jin setan mempunyai kekuatan dan bisa mencelakakan seseorang maka jin dan setan akan masuk kedalam tubuh orang tersebut dan menguasainya.

Dan bila sudah menguasai tentu saja akan dibuat semua bergantung pada mereka, dan tidak pada Allah.

Orang yang beriman sudah pasti tidak akan memberi ruang dalam hatinya untuk selain Allah.

Dia tidak takut pada gangguan jin atau setan karena ia bersama Allah dan yakin bahwa jin atau setan itu lemah. Orang yang beriman atau yakin kepada Allah, apa yang ia ucapkan semua didasari oleh iman, iman kepada Allah.

Orang yang beriman tidak akan pernah bermain-main dengan jin atau setan seperti para dukun atau paranormal itu. Dalam kasus orang kesurupan yang saya ceritakan diatas, insya Allah karena iman.

Rumah orang yang beriman ditakuti oleh jin. Tidak perlu menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk mengusir jin seperti pada kasus diatas.

Percuma saja membaca ayat-ayat Al Qur’an bila ada rasa takut kepada selain Allah. Jin atau setan hanya takut pada orang yang benar-benar takut kepada Allah bukan takut kepada mereka.

Takut kepada Allah berarti mempunyai iman dan takut pada jin dan setan berarti tidak beriman.

Percuma saja mengaji setiap hari atau menjalankan syariat islam bila hatinya tidak islam. Percuma saja mengaji tapi ngajinya bukan sebagai amal ibadah namun hanya untuk mempertahankan atau memperdalam ilmunya yang berkolaborasi dengan jin atau setan.

Percuma saja orang beribadah tapi tujuannya bukan Allah. Sesungguhnya antara iman dan syirik adalah sangat tipis. Disinilah orang sering tertipu. Baju muslim, kefasihan berbahasa Arab, kepanjangan janggut, dan ornamen islam lainnya bukanlah ukuran iman seseorang. Lamanya mondok atau belajar agama tidak menjamin ketebalan iman seseorang. Bahkan gelar ustadz atau kyai tidak menjamin seseorang beriman kepada Allah.

Sering terjadi kesalahan fatal dalam melihat keimanan seseorang dalam masyarakat. Belum tentu orang yang tidak fasih Al Qur’an imannya tipis. Belum tentu orang yang berpakaian ala kadarnya dan jauh dari baju gamis dan surban itu tidak beriman.

Bila ada orang membaca Al Qur’an namun tanpa di dasari iman, tentu saja jin atau setan akan menertawainya sefasih apapun dia.Namun walaupun seseorang yang tidak fasih namun beriman, dia akan ditakuti jin dan setan.Orang yang beriman, insya Allah segala tindak tanduknya akan ditakuti oleh jin atau setan walaupun dalam tidur sekalipun, karena tidurnya orang beriman adalah ibadah, sedangkan tidurnya orang yang tidak beriman dan bodoh tidak akan ditakuti walaupun orang tersebut dalam keadaan menjalankan ibadah.

Orang beriman itu tentu saja akan menjalankan syariat islam sepenuhnya. Dia tidak mungkin keluar dari syariat karena syariat adalah pagar yang akan melindungi dia dari terkaman nafsu setan yang banyak bekeliaran diluar pagar syariat dan akan membawa kepada jalan dosa yang tentu saja dibenci oleh Allah.

Sesungguhnya Bangsa Jin Juga Tidak Tahu Tentang Hal Ghaib

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14).

Suatu ketika seseorang yang mengaku sebagai ‘orang pintar’ mendatangai seorang ustadz/kyai kecil, namanya ustadz Amir, seorang ustadz tak ternama dikampung terpencil disudut pelosok Jawa Timur. Orang tersebut mengaku punya kemampuan untuk menerawang atau tembus pandang. Apabila melihat wanita yang ada di depannya, dia bisa melihat apa saja yang dibalik bajunya (telanjang bulat). Bahkan bila ada orang yang mandi di kamar mandi. Dia mengaku bisa melihat tubuh orang tersebut dari balik tembok. Apa yang dialaminya itu dianggap aneh oleh teman-temannya dan merupakan suatu kelainan. Dengan kemampuannya itu dia ingin menjajal kemampuan ustadz kita.

Setelah tanya ke sana kemari, orang pintar itu berhasil menemui ustadz Amir, ‘orang pintar’ yang mengaku sempat tidak shalat lima waktu selama empat bulan itu bercerita bahwa dirinya telah mencoba menerawang dan mendeteksi keberadaan Ustad sebelum mendatanginya, tapi selalu gagal, padahal biasanya selalu tembus dan berhasil. Berarti kali ini jin yang ia miliki tidak bisa memberikan sinyal alias blank.

Itulah kisah perhelatan anak manusia yang berkolaborasi dengan jin, untuk menyibak hal-hal yang tidak tampak dari pandangan manusia biasa. Setiap yang dibisikkan oleh jinnya selalu dipercaya, setiap apa yang diperintahkannya selalu ditaati. Memang dalam realita praktik perdukunan, di antara mereka ada yang berhasil atau apa yang diomongkan si dukun cocok dengan fakta yang terjadi. Tapi banyak sekali yang gagal dan menyimpang dari realita, seperti sepenggal kisah di atas. Kalau begitu realitanya, benarkah imej masyarakat luas bahwa jin itu makhluk ghaib yang mengetahui segala hal-hal yang ghaib? Marilah kita mencari jawabannya dalam syari’at islam.

Jin juga seperti manusia, tidak mengetahui hal yang ghaib

Secara umum jin itu seperti manusia, mereka juga tidak mengetahui hal yang ghaib sebagaimana manusia. Kelemahan itu diakui sendiri oleh jin, “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”. (QS. Al-Jin: 10).

Keghaiban yang ada dalam kehidupan kita ada empat jenis, sebagian bisa diketahui oleh jin dan manusia dengan usaha-usaha mereka, dan sebagian lain tidak bisa dijangkau oleh mereka. Ragam dari keghaiban itu sebagai berikut:

1. Al-Ghaibul Maadhi (Ghaib karena sudah berlalu), yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya sehingga kita tidak bisa melihat keberadaannya Sebenarnya keghaiban jenis ini bukan suatu ghaib yang tidak bisa diindra, tetapi karena keterbatasan indra kita untuk melihatnya dan karena berlalunya waktu, akhirnya masuk kategori ghaib.

Keghaiban jenis ini bisa ditembus oleh jin dan kroninya, ataupun manusia itu sendiri. Misalnya, telah terjadi perang Diponegoro dan pasukannya melawan penjajah Belanda. Bagi orang yang lahir setelah kemerdekaan negeri ini 1945, perang Diponegoro adalah kejadian yang ghaib, karena keladian itu terjadi beberapa tahun silam.

Kita sebagai manusia yang lahir setelah Tahun 1945 bisa melihat kejadian perang tersebut dengan melihat film documenter atau dengan membaca sejarahnya. Kalau ada dukun yang lahir setelah tahun 1945 bercerita tentang kejadian tahun 1900, jangan heran. Karena dia dapat informasi tersebut dari jin perewangannya. Karena umur jin memang relatif lebih lama bila dibanding umur manusia. Atau jin itu bertanya kepada jin-jin seniornya yang dahulunya sebagai saksi hidup atas kejadian tahun 1900 tersebut. Atau bisa jadi dukun itu baca buku sejarah atau dapat cerita turun temurun dari nenek moyangnya.



2. Al-Ghaibul Hadhir (Ghaib yang terjadi sekarang), yaitu segala sesuatu yang ada atau kejadian yang terjadi pada zaman sekarang tapi ghaib bagi kita. Karena jauhnya keladian dari posisi kita atau karena pandangan kita terhalang untuk bisa mengetahui kejadian itu.

Keghaiban jenis ini bisa dijangkau oleh jin ataupun manusia. Misalnya, ada seseorang yang datang ke dukun untuk mencari solusi dari permasalahan hidup yang menghimpitnya (usaha ini dilarang oleh lslam). Begitu orang itu masuk rumah dukun, si dukun langsung menebak dan membeberkan maksud orang sebut sebelum orang berkata sepatah katapun.

Padahal orang tadi rumahnya sangat jauh dengan tempat tinggalnya dukun, tapi apa yang dikatakan dukun ternyata persis dan tidak melenceng. Janganlah heran, karena jin piaraan dukun telah bertanya atau diberitahu oleh jin qarin (pendamping) orang tersebut. Lalu dibisikkan ke telinga dukun, dan dukupun nyerocos menebak maksud dari pasiennya yang datang.

Bisa juga dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan mencari informasi dari orang orang bayaran yang telah disebarnya, yang bisa jadi orang tersebut kerabat pasien itu sendiri. Apalagi pada zaman sekarang, telepon rumah atau HP sudah banyak, bisa saja dukun itu telah dapat informas dari para intel yang telah disebarnya seputar makud dari pasien yang datang melalui telepon rumah atau HP nya.

Ada juga teman yang pernah mendengar cerita seperti itu langsung dari mantan korban tipu daya dukun yang ber sekongkol dengan kerabatnya sendiri.

3. Al-Ghaibul Istantaji (Ghaib yang bisa diprediksi), yaitu suatu kejadian yang belum terjadi tapi bisa diketahui hasilnya dari pengamatan dan analisa atas fenomena, lalu ditarik kesimpulannya sesuai hukum sebab akibat.

Keghaiban jenis ini juga bisa ditembus oleh jin, ataupun manusia biasa. Karena keghaiban ini berkaitan erat dengan hukum alam sebab akibat yang sudah diciptakan oleh Allah. Misalnya, orang yang normal kesehatannya dan pada suatu malam dia tidak tidur semalam suntuk. Kemudian ada temannya mensatakan. “Besok pagi kamu pasti ngantuk deh”. Setelah paginya datang, ternyata orang tersebut ngantuk berat. Dalam hal ini bukan berarti temannya tadi tahu sesuatu yang akan terjadi (ghaib), tapi itu adalah hasil dari sebab yang ada, yang secara sunnatullah akan berakibat seperti itu. Jadi, ngantuk yang akan dialami orang yang begadang semalaman itu adalah hal yang ghaib, karena belum terjadi dan hasilnya belum bisa dilihat oleh mata kita. Tapi setelah rasa ngantuk betul-betul menyerang orang tersebut, maka terbuktilah apa yang diucapkan temannya tadi. Walaupun bisa saja orang yang begadong tadi melakukan suatu aktifitas atau minum ramuan tertentu yang bisa menahan rasa kantuk atau menghilangkannya untuk mematahkan kesimpulan yang telah diambil olel temannya.


Continue reading this ebook at Smashwords.
Download this book for your ebook reader.
(Pages 1-31 show above.)