Excerpt for Kisah Hikayat Islami Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Menangis Edisi Bilingual Indonesia & Melayu by , available in its entirety at Smashwords

Kisah Hikayat Islami

Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Menangis

Edisi Bilingual Indonesia & Melayu

by

Muhammad Vandestra

2018























Prolog

Pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan shalat Jumat.

Siji Jum'at, warga Kota Madinah dibuwang ing sesawangan sing kepenak lan tanpa wates. Suwe-suwe pamitan bayi kasebut teka saka Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul sing ana ing masjid padha bingung, sing nangis. Ing wektu kuwi, padha nglumpukake kanggo nindakake shalat Jum'at sabat.

Hiji Jumaah, mangrupa nyicingan Madinah Kota digemparkan kalawan cries pisan Melancholy sarta euweuh tungtungna eureun. Hurung kawas orok whining ieu datang ti Masjid Nabawi. Babaturan ti Rosululloh anu di masjid ieu kabingungan, saha sih ieu nangis. Waktu éta, maranéhna dikumpulkeun nedunan solat Jumaah.

One Friday, the citizens of Madinah City were thrown in a very tired and endless cry. The baby's whining voice came from the Nabawi Mosque. The Companions of the Apostles who were in the mosque were confused, who was crying. At that time, they were gathered to perform the Friday prayer service.

























Kisah Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Sedih & Menangis

Pada suatu Jumat, warga Kota Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan ibadah shalat Jumat.

Tangisan terdengar sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah. Mendengarnya, Rasulullah pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya. Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.

Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jumat karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin. Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jumat itulah ia menangis.

Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshar mendatangi Rasulullah. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul. “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.

Maka, pada Jumat keesokan hari, mimbar Rasul telah siap digunakan. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon tersebut.

Setelah dipeluk Nabiyullah, si pohon bahagia. Ia tak lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi, mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.

Kisah pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak rawi yang meriwayatkan hadis tersebut, sehingga tak perlu lagi dipertanyakan kesahihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan lain sebagainya. Kisah ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun, mencintai Rasulullah. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang berakal dan mengetahui keluhuran akhlak beliau kemudian tak jatuh cinta kepada sang Nabi.

Disebutkan dalam Quran Al Ahzab 56 :

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS Al Ahzab 56)

Hikayat Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Menangis

Satu hari Jumaat, penduduk Kota Madinah dibuang dalam keadaan menangis yang sangat lelah dan tidak berkesudahan. Suara merengek bayi datang dari Masjid Nabawi. Para Sahabat para Rasul yang berada di masjid itu keliru, yang menangis. Pada masa itu, mereka berkumpul untuk melaksanakan perkhidmatan solat Jumaat.

Kedengaran terdengar seketika ketika Rasulullah memberikan khotbah. Mendengarnya, Nabi turun dari mimbar untuk menangguhkan khutbahnya. Nabi kemudian mendekati pokok kelapa sawit. Dia mengusapnya, kemudian memeluknya. Jadi, hentikan menangis. Rupa-rupanya, tapak-tapak tapak tangan menangis. Hampir pokok itu dipisahkan dengan menangis.

Sejak Masjid Nabawi ditubuhkan, tapak-tapak tapaknya ada di sana. Bukan sahaja tonggak pokok, pokok palma selalu menjadi punggung Nabi sering dia memberikan khotbah. Pohon ini sentiasa menunggu hari Jumaat kerana pada hari itu dia akan menemani Nabi memberi nasihat kepada umat Islam. Sejak Jumaat pertama masjid, dia sentiasa setia dan gembira untuk menemani Nabi Muhammad. Sehingga hari Jumaat dia menangis.

Beberapa hari sebelum Jumaat yang sedih untuk pokok itu, seorang wanita tua Ansar datang kepada Rasulullah. Dia mempunyai anak tukang kayu dan dia menawarkan mimbar kepada Rasul. "Wahai Rasulullah, adakah kita akan membuat mimbar untuk kamu?" Dia berkata. Nabi menjawab, "Tolong jika kamu mahu melakukannya," katanya.

Oleh itu, pada hari Jumaat pada hari berikutnya, mimbar Rasul sudah siap digunakan. Mimbar itu diletakkan di masjid. Ketika Rasul memanjat mimbar, menangis untuk pohon itu kerana dia bukan lagi "teman" Rasul dalam khotbah Jumaat seperti biasa. "Pohon ini menangis kerana tidak lagi mendengar nasihat biasa yang diberikan di sebelahnya," kata Rasul setelah memeluk pokok itu.

Setelah memeluk Nabiyullah, pohon itu gembira. Dia tidak lagi menangis dan menderita kesedihan. Walaupun tidak lagi menemani Rasulullah, memeluknya dari Nabi cukup untuk merawat kesedihannya. Rasulullah juga berkata kepada para sahabat, "Jika saya tidak memeluknya, dia akan terus menangis hingga Hari Kiamat," kata Nabi.

Kisah tentang pokok-pokok tarikh yang menangis sangat popular dalam kisah Islam. Banyak perawi menceritakan hadith, jadi tidak ada persoalan tentang kesahihannya. Para sahabat banyak yang meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan sebagainya. Cerita ini menunjukkan bagaimana semua makhluk, bahkan pokok, suka kepada Rasulullah. Jadi, sangat menakjubkan bahawa manusia yang bijak dan tahu kemuliaan wataknya maka tidak jatuh cinta kepada Nabi.

Disebutkan dalam Al-Quran Al Ahzab 56:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersolat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, lari kamu kepada Nabi dan ucapkan penghormatannya "(Surah Al Ahzab 56)



Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Menangis Versi Bahasa Jawa

Siji Jum'at, warga Kota Madinah dibuwang ing sesawangan sing kepenak lan tanpa wates. Suwe-suwe pamitan bayi kasebut teka saka Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul sing ana ing masjid padha bingung, sing nangis. Ing wektu kuwi, padha nglumpukake kanggo nindakake shalat Jum'at sabat.

Esuk krungu wayahe nalika Rasulullah menehi khotbah. Ngadhepi, Nabi teka mudhun saka mimbar kanggo nundha khutbahnya. Nabi banjur nyedhaki wit kurma. Panjenengane nuli mlayu, banjur ngrangkul dheweke. Dadi, mungkasi nangis. Ketoke, palem tanggal sing nangis. Meh withe dipisah kanthi nangis.

Wiwit Masjid Nabawi didegaké, ana palem tanggal. Ora mung tonggak sejarah, wit palem sing tansah dadi nabi sing kerep diwenehi khutbah. Wit iki tansah ngenteni dina Jum'at amarga dina iku dheweke bakal ngiringi Nabi menehi saran marang Muslim. Wiwit ana ing masjid pisanan, dheweke tansah setya lan seneng ngiringi Nabi Muhammad. Nganti dina Jum'at dheweke sesambat.

A sawetara dina sadurunge Jumat sadhuwure kanggo wit, Ansar wadon lawas teka menyang Rasul Allah. Dheweke nduweni putra saka tukang kayu lan dheweke menehi mimbar kanggo Rasul. "Wahai Rasulullah, apa kita bakal nggawe mimbar kanggo sampeyan?" Dheweke ngandika. Nabi Nuh mangsuli, "Yen sampeyan pengin nglakoni," dheweke ngandika.

Dadi, dina Jemuwah dina sabanjure, mimbar Rasul wis siap digunakake. Mimbar iki dilebokake ing masjid. Nalika Rasul menek mimbar, mewek saka wit amarga dheweke ora ana maneh sing "kanca" Rasul ing khutbah ana minangka biasanipun. "Wit iki nangis amarga ora krungu saran biasanipun dikirim ing sisih," ngandika Rasul sawise La wit.

Sawise ngagem Nabiyullah, wit iku seneng. Dheweke ora tangis lan ngalami kasusahan. Sanajan ora suwe ngiringi Nabi, dheweke ngrangkul Nabi cukup kanggo ngobati kesedihan. Rasulullah uga dhawuh marang para sahabat: "Yen aku ora ngrangkul dheweke, mesthi dheweke bakal terus nangis nganti dinten kiamat," ngendikane Nabi.

Crita sing nangis tanggal kasebut banget populer ing crita Islam. Akeh narrator narrated hadits, supaya ora ana pitakonan saka sawijining validitas. Kanca saka akeh diriwayataké, loro Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, lan liya-liyane. Kisah iki nuduhake kabeh makhluk, malah wit-witan, tresna marang Rasulullah. Dadi, iku apik tenan yen manungsa sing cerdas lan ngerti kamingkenane karakter banjur ora jatuh cinta karo Rasulullah.

Disebutake ing Al Qur'an Al Ahzab 56:

"Pancen, Allah lan para malaikat ndedonga kanggo Nabi. Hai wong-wong pracaya, sampeyan bershalawatlah kanggo Nabi lan ngomong hello pajeg marang "(QS Al-Ahzab 56)

Ketika Pohon Kurma Masjid Nabawi Menangis Edisi Bahasa Sunda

Hiji Jumaah, mangrupa nyicingan Madinah Kota digemparkan kalawan cries pisan Melancholy sarta euweuh tungtungna eureun. Hurung kawas orok whining ieu datang ti Masjid Nabawi. Babaturan ti Rosululloh anu di masjid ieu kabingungan, saha sih ieu nangis. Waktu éta, maranéhna dikumpulkeun nedunan solat Jumaah.

Sora nangis momentarily nalika Rosululloh méré khutbah a. Dédéngéan dinya, Nabi lungsur tina reureuh mimbar hutbah. Nabi tina Allaah Ibraaheem lajeng ditilik hiji tangkal korma. Anjeunna caressing dinya, lajeng hugged anjeunna. Ku kituna, ngeureunkeun sora nangis. Tétéla, éta tangkal korma nu nangis. Ampir tangkal naon ieu dibeulah kusabab screaming nangis.

Kusabab Masjid Nabawi nangtung, anu tangkal korma geus aya. Henteu ngan milestone a, anu tangkal korma geus salawasna geus deui Nabi sering anjeunna masihan khotbah a. tangkal sok ngantosan Jumaah lantaran dina poé éta anjeunna bakal marengan Nabi masihan nasihat ka muslim. Ti Jumaah hareup masjid ngadeg nepi, anjeunna salawasna satia tur senang dipirig Nabi Muhammad saw. Dugi Jumaah yén Aisyah ieu nangis.

Sababaraha poé saméméh Jumaah anu hemeng pikeun tatangkalan, hiji awéwé heubeul sumping ka Nabi Helpers. Manéhna ngabogaan putra tukang kayu jeung eta nawarkeun platform kanggo Rasul. "O utusan Allah, bakal kami ngawangun platform keur anjeun?" Ceuk Anjeunna. Nabi ogé ngomong, "Mangga upami Anjeun hoyong do," cenahna.

Ku kituna, dina Jumaah isuk kiwari, nu mimbar Rosululloh siap dipaké. mimbar ieu ditempatkeun di masjid. Nalika Rosululloh naek mimbar, ceurik tangkal alatan manéhna henteu deui a "sobat" Rasul dina khutbah Jumaah saperti biasa. "Tangkal Ieu nangis lantaran euweuh uninga nasehat dawam dikirimkeun dina sisi-Na," ceuk Rasul sanggeus hugging tangkal.

Sanggeus nganut Rosul Allaah Ibraaheem, tangkal ieu senang. Anjeunna henteu panjang nangis sarta dogged ku sedih. Sanajan euweuh marengan Nabi, meunang nangkeup ti Nabi téh cukup pikeun ngubaran duka. Nabi oge nyarios ka para sahabatna, "Mun teu kuring nangkeup manehna, memang anjeunna baris nuluykeun ceurik dugi kiamat," Rasulullah saw.

Carita tangkal korma nangis pohara populér dina carita Islam. Loba narator diriwayatkan, jadi teu kudu tanda tanya validitas maranéhanana. Babaturan loba diriwayatkan, duanana Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, jeung sajabana. carita nempokeun sabaraha sadayana mahluk, sanajan tangkal, cinta Nabi. Ku kituna, éta heran yén lalaki anu understands sarta weruh hebat pisan tina karakter na lajeng moal murag asih ka Nabi.

Disebutkeun dina Quran Al-Ahzab 56:

"Allah na malaikat-Na bershalawat ka Nabi. O maraneh anu yakin, anjeun bershalawatlah ka Nabi jeung ucapkeun salam upeti ka anjeunna "(Surat Al-Ahzab 56)









The Story of When The Palm Tree of Nabawi Mosque Sad & Crying

One Friday, the citizens of Madinah City were thrown in a very tired and endless cry. The baby's whining voice came from the Nabawi Mosque. The Companions of the Apostles who were in the mosque were confused, who was crying. At that time, they were gathered to perform the Friday prayer service.

Cries sounded for a moment when the Messenger of Allah gave a sermon. Hearing it, the Prophet came down from the pulpit to postpone khutbahnya. The Prophet then approached a palm tree. He stroked her, then embraced her. So, stop the crying. Apparently, the date palms are crying. Almost the tree was split by crying.

Since the Nabawi Mosque was established, the date palms were there. Not only a milestone, palm trees are always a Prophet's back often he gave a sermon. The tree is always waiting for Friday because on that day he will accompany the Prophet giving advice to the Muslims. Since the first Friday of the mosque, he has always been faithful and happy to accompany Prophet Muhammad. Until that Friday she cried.

A few days before a sad Friday for the tree, an old woman Ansar came to the Messenger of Allah. He had the son of a carpenter and he offered a pulpit for the Apostle. "O Messenger of Allah, will we make the pulpit for you?" He said. The Prophet replied, "Please if you want to do it," he said.

So, on Friday the following day, the pulpit of Rasul was ready for use. The pulpit was laid in the mosque. As the Apostle climbs the pulpit, weep for the tree because he is no longer the Apostle's "friend" in Friday's sermon as usual. "This tree is crying because no longer hear the usual advice delivered next to it," said Rasul after hugging the tree.

Having embraced Nabiyullah, the tree is happy. He is no longer crying and suffering sadness. Although no longer accompany the Prophet, getting a hug from the Prophet enough to treat his sadness. The Messenger of Allah also said to the Companions, "If I do not hug him, really he will continue to cry until the Day of Resurrection," said the Prophet.

The story of the crying dates tree is very popular in the Islamic story. Many narrators narrated the hadith, so there is no question of its validity. The companions of many narrated it, both Ibn Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibn Umar, and so forth. This story shows how all beings, even trees, love the Messenger of Allah. So, it is amazing that human beings who are intelligent and know the nobleness of his character then did not fall in love with the Prophet.

Mentioned in Quran Al Ahzab 56:

"Indeed, Allah and His angels are praying for the Prophet. O ye who believe! Pursue thee to the Prophet and pronounce his reverence "(Surah Al Ahzab 56)





Biografi Penulis

Muhammad Vandestra has been a columnist, health writer, soil scientist, magazine editor, web designer & kendo martial arts instructor. A writer by day and reader by night, he write fiction and non-fiction book for adult and children. He lives in West Jakarta City.

Muhammad Vandestra merupakan seorang kolumnis, editor majalah, perancang web & instruktur beladiri kendo. Seorang penulis pada siang hari dan pembaca di malam hari, Ia menulis buku fiksi dan non-fiksi untuk anak-anak dan dewasa. Sekarang ia menetap dan tinggal di Kota Jakarta Barat.

Blog https://www.vandestra.blogspot.com/


Download this book for your ebook reader.
(Pages 1-9 show above.)